Cerpen Islami 1

Ketika Mas Gagah Pergi

Karya: Helvy Tiana Rosa

Mas Gagah berubah!
Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah !
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA


Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji.

Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?”
“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga. Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?

“Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He…he…he..” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat ! Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

–=oOo=–
“Mas Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikuuum!” seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.
“Matiin kasetnya !” kataku sewot.
“Lho emang kenapa ?”
“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab… , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.
“Ini nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !”
“Bodo !”
“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek…, mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar.”
“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…, eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”
“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”
“Pokoknya kedengaran!”
“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho !”
“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood atau Giginya?

“Wah, ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !” begitu kata Mas Gagah.
Oalaa !

–=oOo=–

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma ‘adik kecil’nya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Sholat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam.

Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya,”Ayo dong Gita, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu !”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Gito, bukan Gita ! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga mama menegurnya.
“Penampilanmu kok sekarang lain, Gah?’
“Lain gimana, Ma ?”
“Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”
Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”

Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino,” komentarku menyamakannya dengan sopir kami. “Untung saja masih lebih ganteng.”
Mas Gagah cuma terawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu.
Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan. Dan…yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan!! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang !”
“Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat khan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”
Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?

Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. “Baca!”
Kubaca keras-keras. “Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!”

Si Mas tersenyum.
“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.
“Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?” kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya, Dik Manis !?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel. Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik ! Aku jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun…, akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru dua puluh satu tahun tapi sudah tingkat empat di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…, yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
–=oOo=–

“Mau kemana, Git!?”
“Nonton sama teman-teman.” Kataku sambil mengenakan sepatu. “Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!”
“Ikut Mas aja, yuk!”
“Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang nggak bisa aku sembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalaamu’alaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?” tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome!

Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt !”

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab…, yaaa begitu deh!!
–=oOo=–
“Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!” seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.
“Ikhwan?” ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.
“Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita,” ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
“Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang dien kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.
“Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Gita…, meski kita kini punya pandangan yang berbeda,” ujar Tika tiba-tiba.

“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…,” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. “Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Ana.”
“Mbak Ana ?”
“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!”
“Hidayah ?”
“Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Ana!”

–=oOo=–

“Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan…, eh Mas Gagah !” tegurku ramah.
“Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.
“Dari rumah Tika, teman sekolah,” jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?” tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, ganbar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku ke-Islaman..
“Cuman lagi baca !”
“Buku apa ?”
“Tumben kamu pengin tahu?”
“Tunjukin dong, Mas…buku apa sih?” desakku.
“Eit…, Eiiit !” Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. “Nih!” serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah.
“Nah yaaaa!” aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku ‘Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam’ itu..
“Maaaas…”
“Apa Dik manis?”
“Gita akhwat bukan sih?”
“Memangnya kenapa ?”
“Gita akhwat apa bukan ? Ayo jawab…,” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu jadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk petamakalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.
Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya!!

“Mas kok nangis?”
“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di Belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit…”
Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

“Kok…tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” tanya Mas Gagah tiba-tiba.
“Gita capek marahan sama Mas Gagah !” Ujarku sekenanya.
“Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”
“Tenang aja, Gita nyambung kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan hal demikian. Aku ngerti deh meski nggak mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!
–=oOo=–

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi sepeti dulu. Meski aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu.
Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum. Atau ke tempat-tempat tabligh Akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut.
“Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.

Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”
Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga gitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek!
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab, Git !” pinta Mas Gagah suatu ketika.
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!”
Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Kayak Mama”.
Memang sudah beberapa hari ini mama berjilbab. Gara-garanya dinasehatin terus sama si Mas, di beliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin sama teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau, tapi nggak sekarang…,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depan (ceila) dan semacamnya.
“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah!
“Ini hidayah, Gita!” kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
“Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Gita pakai rok aja udah hidayah!”
“Lho?” Mas Gagah bengong.

–=oOo=–

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara Studi Tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, “Hei, itu kan Mas Gagah-ku !”
Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga.

Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yamh dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar!
Pada kesempatan itu juga Mas Gagah berbicara tentang muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi.

“Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana taqwa, sebagai identitas muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam sendiri,” kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Tiap katanya kucatat di hati ini.

–=oOo=–

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdalah.

Aku mau ngasih kejutan buat Mas Gagah! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan tasyakuran ultah ketujuh belasku.

Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!” kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang.
“Mas Gagah belum pulang,” kata Mama.
“Yaaaaa, kemana sih, Ma??!” keluhku.
“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”
“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid.”
“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari ini,” hibur mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Gagah.
“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh !” Mama tertawa.Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

–=oOo=–

Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga.
“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh…” hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.
“Nginap barangkali, Ma?” duga Papa.
Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!”
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.
“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !!” Telpon berdering.

Papa mengangkat telepon. “Halo, ya betul. Apa? Gagah???”
“Ada apa , Pa?” tanya Mama cemas.
“Gagah…, kecelakaan…, Rumah Sakit… Islam…,” suara Papa lemah.
“Mas Gagaaaaaahhh!!!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.

Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

–=oOo=–

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika, sedang kondisi Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.

“Tapi saya Gita, adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!” kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku, “Sabar, Sayang…, sabar.”
Di pojok ruangan papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.
“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?” air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa gagah enerjik itu bahkan tak bergerak!
“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…, Mas…Gagah…, Gita udah jadi adik Mas yang manis. Mas… Gagah…,” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…, Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah…, umat juga.”

Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama ibu, bapak, dan Gi…”
“Gita..” suaraku serak menahan tangis.
“Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti permintaannya.

Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…, lukanya terlalu parah,” perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!
“Mas…, ini Gita, Mas…,” sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai.. jilbab,” lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
“Dzikir…, Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang…

“Gi…ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!
“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matamya terbuka. Aku tersenyum.
“Gita… udah pakai… jilbab…,” kutahan isakku.
Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.
“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…,” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.
Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…, sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!
Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…, Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
“Laa…ilaaha…illa…llah…, Muham…mad…Ra…sul…Al…lah…,” suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.
Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.

Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.
Selamat jalan, Mas Gagah !

–=oOo=–

(Epilog)

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah !

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.

Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, Aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya wajah para Mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema di ruang ini…

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”
“Ya, Insya Allah akhwat!”
“Yang bener?”
“Iya, dik manis!”
“Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!”
“Kok nanya gitu?”
“Lha, Mas Gagah ada jenggotnya!”
“Ganteng kan?”

“Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?”
“Ya always dong ! Jihad itu… “

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.
Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.
Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan, Mas Gagah!
HTR, Depok, 1993


Read More...

Kisah Ayyash dan Ayesha

"Menikah ?"
"Ya.."
"Tentu", jawab Ayesha tanpa ragu.
"Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan."
Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi kebaya yang dipakainya dengan rikuh.
"Dengan siapa, Ammah ?"

Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak meyembung. Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah,karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ?
Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.

"Ammah... dengan siapa ?"
Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.
"Dengan Ayyash !" Ayyash ?

Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega.
Biarlah...biarlah Ayesha yang memutuskan.. .ini hidupnya. Suara hati wanita itu bicara.
Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi... juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ?
"Kau pikirkan dulu, ya? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik."
Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, meyisiri rumah-rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan.
Pernikahan.. .sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina.
Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash!

***



Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.

Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah. Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup.

Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya.

Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.

Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu.

Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.

Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom syahid, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah dan mengabarkan berita itu pada umminya.

Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik. Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka.

Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada endam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari

****

Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.

Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah...nanti- nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali. Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut.

"Ayyash mencari istri ?"
"Ia akan menikah secepatnya, akhirnya "
"Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?"
Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
"Kenapa sehari semalam ?", tanyanya pada ammahnya.
"Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis."

Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri,seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah.

"Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama. Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya.

Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan.
"Ya..."jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha.
Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung. Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah. Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. . Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha.

Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang Wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash. Pengantinnya, bidadarinya. ..kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya. "Ayesha...saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu."

Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha,lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya,menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ? Bagi ia yang akan menjelang syahid ?

Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati istrinya.

"Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya."

Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. "Tak apa. Saya mengerti." Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash. Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.

"Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik." Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. "Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha."

Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali.

Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi. Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash,dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash,membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.

Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. Saat ia merebahkan diri di dada Ayyash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak "Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash" Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya.

Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya.

Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

***


Ayyash terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ?
"Ayyash... istrimu, Ayesha." Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.

"Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan...Ayesha yang melakukannya. .."
"Gudang peluru itu. Bunyi...bagaimana kau bisa tak mendengar ?"
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya...Ayesha mendahuluinya ? Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya, serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi...Masya Allah ! Istrinya kini... benar-benar bidadari.

Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah. Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.

Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.

Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Operasi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya.

Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan.. . Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata. Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

------

Apa yang anda tangkap dari kisah tersebut?


Read More...

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.

" Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.

" Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.



Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.

" Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Read More...

Yang Pecah Di Bawah Purnama

“Terdengar jeritan tepat setelah kumandang adzan subuh selesai. Seorang perempuan berbadan kurus, berumur tiga puluh dua tahun, kepalanya tertutup kerudung warna hitam, mendekap bocah perempuan yang mengigil ketakutan sambil menangis sesenggukan. Tubuh perempuan itu bergetar hebat—entah karena mencoba menahan tangis atau amarah. Di depan mereka, mayat seorang laki-laki terbujur tak bernyawa, bersimpah darah, dengan luka di sekujur tubuhnya. Di dahi laki-laki itu ada sebuah lubang sebesar jari kelilingking, yang masih mengeluarkan darah segar, yang menetes ke lantai.

” Raihana terdiam sejenak, mengatur nafasnya yang setengah memburu, kemudian melanjutkan kata-katanya, “Itulah saat aku dan ibuku melihat mayat ayah tergeletak di beranda rumah, tepat di depan pintu masuk. Saat itu, umurku baru sembilan tahun. Meski sudah tiga belas tahun yang lalu peristiwa itu terjadi, tapi masih menganga lebar dalam benakku.” Sunyi suasana dalam ruang penjara. Diani, kawan satu sel Raihana hanya diam membatu. Matanya menatap awas jeruji-jeruji besi yang telah memisahkan mereka dengan kebebasan. Mata Diani yang agak lebar terlihat menyala seperti memendam bara, yang setiap saat bisa berubah menjadi kobaran. Terlihat kaku. Wajahnya seakan-akan menahan beban masa lalu yang begitu berat. Setelah mendesah panjang, Diani kemudian berkata, “Memang bajingan tentara-tentara itu. Mereka telah mengambil semua yang kita miliki, termasuk harga diri kita. Ayah kita diperlakukan seperti anjing, dibantai dengan semena-mena dan mayatnya dibuang seenaknya. Sementara ibu kita, saudara perempuan kita dan kita sendiri menjadi korban perkosaan. Rakyat Aceh tidak memiliki apa-apa lagi sekarang, selain rantai penindasan itu sendiri.”



Suasana sunyi mengambang. Dari arah luar, terdengar suara lonceng yang ditalu sebelas kali, memukul jantung sunyi. Raihana bangkit dari tempat tidurnya yang hanya berupa tembok dingin beralas selembar tikar, yang telah sobek di dimakan usia. Dia berjalan menuju jeruji besi. Dicengkramnya jeruji itu dengan tangan-tangannya yang mungil, cengkraman yang kecil tapi kuat.
“Sejak kapan kau bergabung dengan GAM?” tanya Raihana tanpa menoleh pada Diani.
“Sejak suamiku diculik dan kemudian dibunuh oleh orang-orang berambut cepak. Sebelumnya, aku tidak peduli dengan GAM dan tentara. Terus terang, aku sudah bosan dengan peperangan yang tiada henti ini. Suara tembakan, kabar penculikan, mayat-mayat yang baru ditemukan, berita perkosaan, benar-benar membuat hatiku luruh. Tapi kejadian malam itu akhirnya memaksaku untuk memilih: berpihak pada GAM atau tentara. Dan ternyata, aku memilih berpihak pada GAM. Aku kemudian menjadi Inong Balee.” “Memangnya, suamimu anggota GAM?” “Bukan. Dia sebetulnya hanya petani biasa. Kami mempunyai tanah warisan yang tidak begitu luas, tapi cukup untuk memenuhi hidup sehari-hari. Tanah itu kami tanami dengan tanaman kebutuhan sehari-hari. Kehidupan kami sederhana, tapi kami bahagia. Suamiku seorang pekerja keras, walau cuma lulusan SD.”

“Kenapa suamimu ditangkap?”
“Dikhianati kakaknya sendiri.”
“Kakaknya sendiri?”
“Ya. Setelah kematian ibu suamiku, kakaknya ingin menguasai seluruh harta warisan. Kakak suamiku kemudian menyebar kabar bohong bahwa suamiku anggota GAM. Sebetulnya, itu merupakan buntut dari pertengkaran yang sudah berlangsung selama tiga tahun. Kakak suamiku menghendaki agar dia mendapat jatah warisan yang lebih besar. Tapi orang tuanya malah membagi tanah warisan menjadi dua sama besar.” Diani berhenti sejenak, matanya kelihatan menerawang. Mungkin ia sedang mengingat-ingat peristiwa yang terjadi empat tahun lalu

“Aku ingat, waktu itu hari minggu. Ketika sedang di ladang, suamiku bertemu dengan Dulah, salah seorang anggota GAM yang paling dicari-cari di kampung kami. Tepat malam harinya setelah pertemuan itu, lima orang berbaju doreng dengan senjata laras panjang bersama kakak suamiku, mendatangi rumah kami. Kebetulan aku sendiri yang membuka pintu yang digedor-gedor dari luar. Begitu pintu kubuka, mereka langsung masuk, mengobrak abrik seisi rumah, memasuki kamar kami dan akhirnya menemukan suamiku yang sedang sholat. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, suamiku yang sedang rukuk diberondong peluru dari belakang. Ia hanya sempat mengaduh sebentar dan kemudian roboh. Sajadahnya yang penuh noda darah masih kusimpan hingga kini,” kata Diani dengan suara yang pelan, tapi penuh amarah.

Mereka berdua terdiam. Sepi mengambang lagi. Terlihat butiran-butiran air mata di pipi Diani. Segera dia menghapus air mata itu agar tidak terlihat Raihana yang berjalan menuju tempat tidurnya.
“Sebagai tentara GAM, pernahkah kau membunuh?” tanya Raihana setelah membetulkan letak kerundung kremnya, yang bermotif bunga-bunga.
“Pernah, sekali.”
“Siapa yang kau bunuh?”
“Kakak suamiku.”
“Kakak suamimu?” Raihana berusaha menyakinkan apa yang baru didengarnya. Ditatapnya mata Diani lekat-lekat.
“Ya. Pada sebuah malam, aku cegat dia dalam perjalan pulang menuju rumahnya. Kuberondong tubuhnya dengan peluru yang keluar dari AK 47 dan dia pun mati seketika. Setelah mati, kucongkel kedua bola matanya. Sekarang, bola mata itu masih disimpan oleh temanku yang ada di luar.” Diani terdiam sejenak, mencoba menahan emosinya.
“…..”
“Sebetulnya, itulah motivasiku ketika pertama kali masuk GAM: membalas dendam. Tapi setelah aku bergerilya dari satu tempat ke tempat lain, dan bertemu dengan perempuan-perempuan yang kehilangan suaminya, perempuan yang baru diperkosa oleh tentara, dan menemukan banyak tengkorak kepala rakyat Aceh di bukit tengkorak, aku akhirnya jadi benar-benar berjuang untuk rakyat Aceh,” kata Diani dengan penuh kesungguhan.
“Kau sudah punya anak?”
“Waktu suamiku ditembak, aku sedang hamil delapan bulan. Sekarang umur anak perempuanku sudah tiga tahun lebih. Aku titipkan dia pada ibuku,” Diani mendesah. “Sering kali aku merindukannya. Hanya tiga bulan dia sempat kususui,” kata Diani datar, mencoba memendam kerinduan pada buah hatinya.
Malam semakin larut. Suasana dalam penjara benar-benar sepi. Kadang-kadang kalau angin sedang bertiup kencang, terdengar aliran sungai di samping penjara. Memang, penjara itu terletak di pinggir Kali Panayong yang airnya akan berkilau setiap purnama menatapnya.“Kau belum mengantuk?” kata Diani memecah kesunyian malam.

Raihana yang sedang berusaha mengusir kecoak yang berjalan di dekat kakinya menjawab, “Sejak masuk dalam penjara, aku jadi sulit tidur.”
“Aku juga begitu ketika pertama kali masuk penjara. Rasanya aneh. Kita yang biasanya bergererilya dari hutan satu ke hutan yang lain, tiba-tiba harus hidup dalam ruangan sesempit ini. Kebebasan memang tidak bisa dibayar oleh apapun.” Diani batuk-batuk.“Kulihat kau sering menulis di malam hari. Menulis apa?” Diani bertanya lagi.“Aku suka menulis puisi. Itu kulakukan untuk membunuh rasa sepi yang sering datang menyerangku.”
“Oh. Kau sendiri ditangkap karena apa?”
“Demonstrasi. Aku dan kawan-kawanku membakar gambar Mega-Hamzah pada tanggal 16 Juni 2002 kemarin. Setelah demo itu, aku kemudian ditangkap.“Aku juga mendengar berita itu. Ternyata, kau ya yang memimpin.”
“Ya, aku. Oh iya, aku mau tanya. Apa sebagian besar yang dipenjara di sini anggota GAM juga?”
“Ya, begitulah. Tapi banyak juga yang sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dengan GAM. Coba kau lihat perempuan itu.” Diani menunjuk seorang tahanan perempuan yang ada di depannya.
“Kenapa dengan dia? Aku lihat siang tadi, dia hanya berdiri sambil menghormat dan menghadap ke arah dinding.”“Dia cuma ibu rumah tangga biasa. Anaknya-lah yang dituduh sebagai anggota GAM. Selama berbulan-bulan, anaknya itu dicari-cari tentara dan hingga kini belum juga ditemukan. Maka, perempuan itulah yang dijadikan sandera.”
Lantas?”
“Dia dibawa ke Kantor Koramil dan dikerangkeng di sana. Setiap jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang, dia disuruh menghormat bendera merah putih. Sorenya, jam empat sampai magrib juga diharuskan melakukan hal yang sama.” Jadi tadi siang itu, dia berdiri sambil menghormat karena masih mengingat kebiasannya waktu ditahan di Koramil itu?” “Mungkin. Setelah tiga bulan ditahan disana, dan mengalami tekanan demi tekanan, akhirnya perempuan itu jadi gila sampai saat ini.” Keduanya terdiam, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Udara di dalam sel semakin dingin menggigit. Raihan maupun Diani kelihatan sama-sama agak menggigil.
“Aku tidur dulu ya,” kata Diani datar. “ Ya.” Raihana duduk terpekur, bersandar pada dinding penjara. Beberapa kali tangannya digerak-gerakkan untuk mengusir nyamuk yang berterbangan di sekitar kepalanya, sambil sesekali mendesah.
***
Setahun yang lalu, Raihana cuma perempuan biasa. Seperti remaja-remaja lainya, dia sering berkumpul dengan teman-temannya sesama perempuan dan bergosip tentang apa saja—mulai dari laki-laki idaman sampai kadang-kadang juga bintang sinetron atau bintang film India, seperti Sharukh Khan.
Perubahan dalam dirinya mulai terjadi ketika dia menjadi mahasiswi Universitas Syahkuala, Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, jurusan bahasa Inggris—dia memilih jurusan itu karena sejak SMA sudah tergila-gila dengan karya Shakespeare, terutama Romeo and Juliet, dan Hamlet. Disana, Raihana mengenal Hidayat, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syahkuala angkatan ’97, yang kemudian mengenalkannya pada dunia gerakan mahasiswa. Hidayat sempat menjadi kekasihnya walau tidak lama—laki-laki itu ternyata lebih memilih perempuan lain. Meski kecewa, sebetulnya Raihana masih menyimpan sisa cintanya, hingga kini. “Tidak ada perempuan yang mau diduakan, tidak juga ibumu,” begitu Raihana ketika perpisahannya dengan Hidayat terjadi. Kisah cintanya bersama Hidayat memang sudah berakhir. Namun cinta Raihana terhadap dunia gerakan mahasiswa ternyata bertambah dalam—apalagi ketika melihat keadaan rakyat daerahnya yang semakin menderita. Raihana kemudian menjadi aktivis perempuan yang aktif dan disegani.
***
Malam terus merangkak. Diani kelihatan sudah tertidur pulas, namun tidak demikian dengan Raihana. Dari sudut, ia sedang memandangi Diani, kawan seselnya yang belum lama dia kenal, tapi di antara mereka berdua seperti sudah ada rajutan benang yang kuat. Mungkin penderitaan dan penindasan yang menjadikan mereka berdua menjadi dekat. Dan mungkin itu juga yang membuat Raihana mau bercerita secara terbuka pada Diani tentang apa saja, termasuk tujuan-tujuan politik organisasinya.
Suasana yang sepi kemudian menjadi agak gaduh ketika terdengar pintu gembok bagian luar dibuka. Setelah itu, disusul terdengar suara beberapa langkah kaki yang berat, yang terpantul-pantul di sepanjang lorong penjara. Mendengar itu, Raihana turun dari tempat tidurnya, berjalan menuju jeruji besi, membelalakkan matanya dalam gelap, berusaha melihat siapa yang datang. Namun, tidak dilihatnya siapa-siapa. Barulah beberapa saat kemudian, tampak tiga orang laki-laki berbadan tegap berjalan ke arahnya. Sebelum tiga laki-laki itu benar-benar mendekat dan memergokinya sedang melongokkan kepala di antara jeruji, Raihana bergegas kembali ke tempat tidurnya, dan pura-pura tidur. Tidak lama kemudian, terdengar gembok pintu sel Diani dipukul-pukul dengan tongkat besi sambil disertai teriakan, “Bangun!Bangun!” Baik Raihana yang pura-pura tidur maupun Diani yang benar-benar tertidur sama-sama bangun. Diani kelihatan agak kaget, sementara Raihana yang sebetulnya sudah tahu kedatangan tiga orang itu, yang kini berdiri persis di depan pintu selnya, pura-pura mengucek-ngucek mata.
“Ayo cepat bangun!” terdengar teriakan lagi. “Siapa yang namanya Raihana?” kata lelaki berbadan agak gemuk, dengan kumis melintang di atas bibirnya.
“Saya Pak,” jawab Raihana. “Ayo ke sini. Segera ikut kami,” kata lelaki bertubuh jangkung dan bermata lebar.
Dengan pelan, Raihana melangkah menuju pintu sel. Seorang lelaki agak tua yang rambutnya sudah banyak ubannya, dan pekerjaan sehari-hari memang menjadi sipir di penjara ini, membuka gembok. Terdengar pintu sel terbuka. Raihana kemudian dipersilahkan keluar. “Barang saya perlu dibawa, Pak?” tanya Raihana sebelum keluar. “Tidak usah!” kata lelaki berbadan agak gemuk tadi. Dalam benak Raihana muncul pikiran kalau dirinya mungkin akan diintrograsi. Memang sudah biasa introgasi tengah malam dilakukan, ketika tahanan masih dalam keadaan bingung dan lemas karena baru bangun tidur. Sebelum keluar dari selnya, Raihana sempat menoleh sebentar ke arah Diani yang hanya duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya. Pintu sel digembok kembali. Langkah empat orang itu terdengar semakin lama semakin jauh, meninggalkan para tahanan yang masih tertidur pulas, dan beberapa yang tampak mengintip takut-takut dari balik sel. ***
Setelah menempuh perjalan setengah jam, Rahaina dan beberapa orang yang membawanya sampai di sebuah perkebunan. Rupanya setelah dijemput dari selnya tadi, Raihana langsung dibawa pergi meninggalkan LP. Mobil Kijang yang membawanya berhenti di pinggir jalan. Di bawah sinar bulan purnama yang menerangi jalanan setapak, bayangan mereka kadang tampak, kadang menghilang. Mereka seakan berjalan tanpa suara, hanya bunyi serangga yang terdengar di sepanjang perjalanan. Raihana berjalan paling depan. Sesekali, dia tampak menengadahkan kepala, mencoba melihat bulan purnama yang bersinar indah tepat di atasnya. Rupanya, sudah lima purnama dia lalui dalam penjara. Dulu ketika masih berpacaran dengan Hidayat, mereka selalu pergi ke pinggir pantai di setiap malam bulan purnama. Pantai favoritnya adalah Pantai Lampu’uk. Di pantai itu, yang letaknya tidak jauh dari pusat Kota Banda Aceh, kurang lebih 12 km arah barat kota, Raihana bebas memandang laut yang tampak berkilau tertimpa sinar bulan. Setelah berjalan lima belas menit, mereka berempat berhenti di bawah pohon yang besar. Rupanya di tempat itu sudah ramai. Ada sekitar enam orang, yang semuanya laki-laki, sudah menunggu di tempat ini. Tiga orang yang mengiringi Raihana memberi hormat pada seorang lelaki yang kelihatannya adalah komandan mereka. Kau yang bernama Raihana?” kata laki-laki itu, sambil berjalan mendekati Raihana.
“Ya,” jawab Raihana singkat sambil matanya menatap bulan purnama, yang entah bagaimana kini sudah ada di hadapannya. “Apa yang kau lakukan selama ini?” “Membuat bulan purnama itu agar tidak berwarna merah.” “Apakah kau anggota GAM?” “Sekarang bulan purnama itu berwana merah.” Komandan itu bingung mendengar kata-kata Raihana. Karena penasaran, dia kemudian memandang bulan purnama. Tingkah komandan itu serentak diikuti oleh seluruh anak buahnya. Namun karena tidak menemukan sesuatu yang aneh, komandan itu kembali menatap Raihana. “Apakah kau anggota organisasi kiri?!” Kali ini, suaranya sengaja dibuat menggelengar.
“Dilumuri oleh darah penghuninya sendiri,” kata Raihana setengah mendesis. Komandan itu mulai tampak gusar. Tidak satu pun pertanyaanya dijawab oleh Raihana. Dengan setengah membentak, dia kembali bertanya, “Apakah kau mau membuat Aceh menjadi negara komunis?!”
“Sekarang darah itu menetes,” kata Raihana masih dengan mendesis. Kini, komandan itu tidak peduli lagi dengan kata-kata yang diucapkan Raihana.
”Aku sudah tahu semua rencana kalian,” kata komandan itu. “Semuanya sudah kami ketahui. Diani sudah menyampaikan semuanya pada kami,” lanjutnya lagi. Mendengar nama Diani disebut, Raihana langsung memandang wajah komandan yang tampak sedang tersenyum penuh kemenangan. Hanya sekilas, Raihana kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke bulan purnama. “Diani itu orang kami,” kata komandan itu sambil membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Raihana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki berjalan mendekati Raihana. “Sekarang waktumu telah tiba. Bersiap-siaplah,” katanya. Raihana tidak memperhatikan kata-kata itu, dia tetap memandang bulan purnama, sambil sesekali mendesah. “Sekarang darah itu menetes.” Setelah berkata seperti itu, Raihana memadang laki-laki yang ada di dekatnya dengan tajam. Meski tampak tegar, tapi kata-kata Raihana terdengar agak bergetar, “Sejak lahir, aku sudah siap.” Itulah kalimat terakhirnya. “Sekarang berbaliklah!” kata laki-laki itu lagi. Raihana tidak menjawab, dan juga tidak berbalik. Dia justru kembali memandang bulan purnama.
“Berbaliklah!” kata lelaki itu lagi, dengan suara keras sampai badannya berguncang.
Namun Raihana tidak berbalik, dia tetap memandang bulan purnama. Dan karena Raihana tidak mau berbalik, lelaki itu akhirnya berjalan memutar. Setelah berada tepat di belakang Raihana, diarahkannya pistol yang dipegangnya sejak tadi ke kepala perempuan yang ada di depannya.
“Dor!Dor!” Suara letusan terdengar membelah kesunyian malam. Tubuh Raihana roboh, membentur tanah. Bergerak-gerak sebentar, kemudian membatu. Tampak darah mengalir dari lubang di kepalanya. Darah seorang perempuan Aceh yang tertumpah demi rakyat yang diperjuangkannya, yang mati di atas tanahnya sendiri, Tanah Rencong Aceh. Kepala Raihana telah pecah di bawah purnama.
__________________
"Sedikit ide yang kau tuangkan dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"

Read More...

Jari Jari Tangan Istri Ku

Oleh; Ihan Sunrise

“Tangan mu indah sekali Dik,” ucapku suatu malam, saat itu kami tengah makan malam berdua disebuah café. Kami sengaja mengambil tempat agak dipojokan agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian orang-orang, sebaliknya kamilah yang menjadi leluasa untuk memperhatikan orang lain. Kebetulan malam itu agak sepi karena bertepatan dengan minggu malam, anak-anak muda tidak banyak berdatangan karena besoknya mereka harus sekolah dan mungkin malam ini harus menyiapkan tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

“Aku selalu bernafsu setiap kali melihat tangan mu dengan kuku-kuku yang indah terawat.” Kata ku lagi melihat tidak ada respon apapun dari istriku. Sesungguhnya ini bukanlah kali pertama aku berkata begitu didepan istriku, sangat sering bahkan dan tak peduli dimanapun berada. “Sudah, sudah, makan saja dulu.” Jawabnya agak tersipu malu, aku tersenyum tipis melihatnya. Mata ku masih belum beralih dari jari-jari tangannya yang lentik, aku justru menatapnya dengan semakin liar. Melihatnya merobek-robek ayam bakar dengan kedua tangannya. Ibu jari dan telunjuknya mencengkeram dengan kuat sedang tiga jari lainnya melengkung mengikuti kedua jari tadi dengan sangat indahnya. Sebuah pemandangan yang amat sangat menyenangkan untuk dinikmati.


“Entah aku bisa mencintaimu atau tidak jika saja Tuhan tidak memberi mu tangan sebagus itu,” kali ini aku juga bicara jujur. Dan memang tidak ada gunanya berbohong kepada istri sendiri. Ku pikir istriku masih tidak perduli, tapi rupanya tidak. Air mukanya seketika berubah, ia meletakkan ayam bakarnya dan menatapku seolah-olah meminta penegasan dari apa yang barusan aku katakan. Ada kesedihan yang tiba-tiba menggantung diwajahnya, aku memaklumi perubahannya yang tiba-tiba itu. “tapi syukurlah jari-jari indah seperti itu tidak dimiliki oleh perempuan lain,” sambungku cepat berharap selera makannya tidak hilang. “Lalu kalau seandainya besok tangan ku terpotong dan jari-jari ku hilang?” tanyanya dengan mimik wajah serius. Ada kekhawatiran dan kecemasan. “Itu persoalan lain, lanjutkan saja makannya” Begitulah, tampaknya memang berlebihan kalau aku mengatakan asal muasal jatuh cinta kepada istriku karena terpesona pada jemarinya yang lentik dan indah. Saat itu, beberapa tahun lalu pertama kali aku melihatnya tengah mengetik sebuah artikel di rental computer. Lalu kuberanikan diri menanyai namanya dan meminta nomor teleponnya dan jadilah dia istriku sampai sekarang. Barangkali ia berfikir kalau aku jatuh cinta karena terpesona pada wajahnya yang hitam manis, atau pada tutur katanya yang lembut dan sopan, atau pada sikapnya yang kadang agak grasak-grusuk itu. Itu memang benar, tapi datangnya jauh setelah aku menikahinya, setelah aku punya banyak waktu untuk memperhatikannya. Bahwa selain punya tangan bagus dan cantik istriku juga memiliki wajah hitam manis yang enak dipandang, punya tutur kata yang lembut dan menenangkan. Tapi yang selalu membuatku mabuk adalah jari-jemarinya yang lentik dan indah terawat itu. Barangkali karena aku tidak pernah memuji parasnya itulah suatu hari istriku memberanikan dir bertanya pada ku. “Apa yang membuat abang jatuh cinta kepadaku sehingga mau menikahi ku?” tanyanya suatu pagi. Seketika saat itu aku melihat kejari-jarinya yang tengah mengaduk kopi, aku agak bingung juga mendapat pertanyaan seperti itu sepagi ini. Kalau aku jawab jujur bisa dipastikan dia akan salah paham nantinya. “Mau jawaban jujur atau jawaban bohong nih…” “Idih, abang ini gimana sih, ya jawaban jujur dong.” Saat itu aku mendapatkan bagian lain dari dirinya selain tangan indah dan wajah manis, yaitu senyum yang menawan. “Karena jari-kemari mu yang indah Dik” Ia tertegun mendengar jawaban ku, “Tidak ada yang lain?” tanyanya tanpa kedipAku menggeleng. “Benarkah?” ia tampak belum yakin. Aku mengangguk lagi, ia tersenum sambil menyerahkan kopi kepada ku, tapi senyumnya agak getir dan hambar. Barangkali karena dipaksakan. Dan obrolan tentang asal muasal cinta pagi itu berhenti sampai disitu saja. Aku pun tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi soal itu. Hingga suatu hari aku melihat istri ku tengah menggosok-gosok kukunya dengan alat seperti gabus berbentuk persegi panjang pipih, aku hanya memperhatikannya saja dari jauh, benda apa itu pikir ku. Tapi karena penasaran akhirnya aku mendekat. “Kenapa kukunya?” “Biar tetap cantik, biar abang terus mencintaiku” jawabnya datar tanpa senyum Oohh…istriku, ia sepertinya sedang ingin berunjuk rasa kepada ku, menyampaikan sikap protesnya dengan cara seperti itu. Aku jadi geli mendengarnya. Tapi memang setelah ia melakukan ritual itu kukunya menjadi lebih cantik dan mengkilat, biasanya ia hanya membersihkan dengan jeruk nipis saja agar kukunya selalu bersih. “Bagaimana?” tanyanya sambil memperlihatkan kedua tangannya kepada ku. “Cantik,” jwabku seraya menarik tangannya untuk ku kecu “Cccuuuuppp…..” “Kenapa” aku bertanya saat melihat ia menjadi murung, bukankah seharusnya senang mendapat pujian dari suami tercinta dengan bonus kecupan ditangan? “Dedemikian buruk kah wajah ku sehingga abang tidak pernah menciumnya?” ucapnya pelan dan sendu. Masya Allah…jauh sekali yang dipikirkan oleh istri ku, aku tersentak dibuatnya. Tapi dengan cepat aku segera mengkalkulasikan antara mencium tangannya dengan mencium keningnya, yah, mencium tangannya jauh lebih banyak, tak terhitung. Tapi…aku sama sekali tidak menduga kalau istriku akan berfikir hingga keayat itu. “Bukan begitu sayang…” aku menjadi sulit menjelaskan kepadanya “Lalu apa?” suaranya bergetar tapi ia tidak menangis. Ini lah satu hal lagi yang kusukai dari istriku, tidak cengeng. Bahkan dalam beberapa hal ia tampak lebih maskulin dari diriku seperti hoby mengebutnya atau cara dia membenarkan listrik dirumah ini. Tapi semua itu tertutupi dengan kelembutan dan kelentikan jari jemarinya yang indah tadi. Tangannya tetap lembut walaupun sehari-hari ia berkutat dengan cucian dan bumbu rempah, tutur katanya senantiasa terjaga meskipun ia bisa saja memaki ku dan aku tidak akan marah. “Begini, dulu, asal muasal abang mencintai mu memang karena tangan mu itu. Itu karena sedikit sekali waktu yang ku punyai untuk bisa bersama mu, sehingga setiap kali kita bertemu yang menjadi perhatianku adalah tangan mu. Tapi setelah kita menikah, setelah abang punya banyak waktu bersama mu, abang banyak menemukan yang lain lagi dari dirimu Dik. Hingga akhirnya aku mencintai mu dengan stok cinta yang berlimpah-limpah.” Urai ku panjang lebar “Apa itu?” Ah, istriku, ia memang sangat pandai berpura-pura. Sebenarnya ia sudah tahu apa maksud dan tujuan perkataan ku tapi ia ingin aku mengatakannya dengan jelas. “adik punya wajah yang manis, walau tidak seperti bulan tapi selalu ada bintang bergantung disana. Dan tidak pernah hilang meskipun saat kau marah. Adik punya senyum yang manis, memang tidak semanis senyumnya Desi Ratnasari, tapi cukup ampuh untuk menjadi penenang bagi suami mu yang sering dilanda gelisah ini,” aku memperhatikan wajah istri ku lagi, mulai bersinar kembali. “Kamu punya suara yang merdu sekalipun tengah berteriak menyoraki tim sepak bola jagoan mu.” “Heheheh…abang udah deh, jangan merayu terus, nanti aku bisa berteriak lebih keras lagi.” Tawanya begitu lepas “Berteriaklah ditelinga abang”
“Aw…aw…” teriaknya riang, aku tertawa Istriku, kadang aku merasa Tuhan telah tidak adil kepadanya, karena untuk perempuan sesempurna dia hanya diberikan seorang suami yang cacat. Laki-laki yang hanya mempunyai sebelah kaki dan terus bergantung pada kaki palsu
10:36 pm
19/02/07


Read More...